Cari Blog Ini

Memuat...

Total Tayangan Laman

Rabu, 25 Januari 2012

Geser Perspektif Cinta #1 (3 Bagian)


Seperti janji saya tempo hari, saya akan menuliskan sebuah cerita tentang cinta, dan menegaskan bagian "apakah ketertarikan fisik itu penting dalam membangun hubungan cinta?"

Langsung saja mari kita ke bagian awal dari cerita ini,
“Kau kenal Jones?” tanya Robert Craft kepadaku saat aku berdiri di anak tangga clubhouse. Robert adalah pemilik Craft Farms, salah satu club golf terbaik di Gulf Coast, dan tempat yang aku datangi hari ini untuk makan siang.
“Ya,” Jawabku, melihat sekilas ke bawah gedung ke tempat Jones berdiri dengan kaki di atas kopernya, dikelilingi anak-anak muda. Anak-anak muda laki-laki dan perempuan, sebagian besar kelihatannya berumur akhir belasan atau awal dua puluhan. Mereka sedang tertawa, memperhatikan setiap kata laki-laki tua itu. “Siapa anak-anak itu?”
“Penjaga tas, pelayan di restoran, pemelihara lapangan rumput…. Kau sedang menatap semua anak muda yang bekerja di sini yang sedang tidak perlu melakukan hal lain saat ini.” Robert menyeringai dan menambahkan, “Dan barang kali beberapa yang sebenarnya harus melakukan hal lain.”
“Bagaimana kau kenal dengan Jones?” tanyaku pada Robert.
“Ayahku kenal dia,” jawabnya, masih sambil menatap sekumpulan anak muda yang mengelilingi laki-laki tua itu. “Sebelum Ayah bertemu Ibu, Jones membantunya keluar dari suatu masalah.” Robert berpaling kepadaku. “Itu bukan sesuatu yang besar, kau tahu. Salah satu hal ‘ini dia cara lain melihatnya’, tapi ayah tidak pernah melupakan cara itu – ataupun Jones.”
“Kau sering bertemu dengannya?” tanyaku.
Wajah Robert menjadi aneh. “Apakah kau sering bertemu dengannya?” ia balik bertanya.
“Aku yang bertanya lebih bulu,” kataku, dan kami berdua tertawa.
Kembali menatap laki-laki tua itu, Robert berkata, “Suatu kali aku bertanya kepada Ayah seperti apa wajah Jones saat masih muda. Ayah bilang wajahnya sama seperti itu.” Robert menyentakkan ibu jarinya ke arah Jones. Lalu, teringat akan pertanyaanku, ia menambahkan, “Kurasa aku seudah bertemu dengannya… oh, dalam hidupku sepuluh atau dua belas periode berbeda dalam hidupku.”

“Apa maksudmu dengan ‘periode’?”
Kau tahu… dia tinggal sementara waktu, lalu pergi sementara waktu.. seperti itu.” Ia menjentikkan jari-jarinya. “Kadangdia pergi begitu lama hingga aku lupa akan dirinya. Tapi dia selalu kembali.”
Robert melayangkan tatapannya melewati fairway kedelapan belas. “Kau tahu, Ayah yang memulai ini,” katanyadengan lengan merentang lebar melewati lanskap. Sebelum menjadi lapangan golf, dulu ini padang gladiola. Ketika aku mengambil alih beberapa tahun lalu, Ayah memberitahuku agar memberikan tempat untuk laki-laki tua itu di sini.”
“Oh, ya?”
“Hm-hm. Dia tidak bermain golf. Hanya berkeliaran dan berbicara dengan orang-orang. Kadang aku melihatnya di ruang makan atau di luar di dekat lapangan – dalam perbincangan  serius dengan seseorang atau orang lain. Aku tidak tahu dia tidur di mana. Atau dalam hal ini, apakah dia memang tidur. Dia tidak pernah tidur di sekitar sini.”
“Kami berusaha menggratiskan makanannya.” Robert melanjutkan. “Tapi dia selalu membayar. Pemberi tip yang besar juga, kata staf pelayan. Aku tidak tahu darimana dia dapat uang , tapi kurasa dia menyimpannya dalam koper itu. Tuhan tahu, tidak mungkin ada baju di dalam sana… dia selalu memakai pakaian yang sama.”
Tawa kembali meledak dari kelompok yang mengelilingi laki-laki tua. Robert tersenyum dan menggelengkan kepala. “Mereka menyayanginya.”
Penasaran, aku pun bertanya, “Apakah kau keberatan dia ada di sini? Kau tahu, dia tidak terlihat seperti tipe orang yang bermain golf.” Lalu aku beralih ke para pegawai Robert. “Apakah dia menyita terlalu banyak waktu mereka?”
“Harus ku katakan kepadamu,” kata Robert, “kalau aku bisa menemukan cara untuk membuat laki-laki tua tua itu tinggal di sini, aku akan melakukannya. Anak-anak ini serasa melayang setelah bicara dengannya. Mereka menjadi lebih baik. Mereka menjadi lebih tajam – dalam segala hal. Anak laki-lakiku—kau tahu Mitch—bercerita kepadaku bahwa Jones menasehati mereka—hanya hal-hal kecil—tapi mereka mendengarkan, dan nasihat laki-laki itu manjur.” Ia menggeleng-gelengkan kepala keheranan. “Kapan kau pernah melihatsegerombolan anak tertarik pada laki-laki tua eksentrik tua seperti itu?” lau ia menambahkan, “Dan apakah kau sudah mendengar omongan orang di sekitar kota? Bukan hanya anak-anak. Orang-orang berusaha menemukannya, mencarinya. Dan kau kenal Jones; dia akan bicara dengan siapa saja.” Robert berhenti sejenak, berpikir. “Kali ini dia tinggal lebih lama, kurasa,” katanya pada akhirnya.
Jones melihat ke arah kami, melihat kami, melambaikan tangan, dan terus bicara dengan anak-anak muda itu. Aku juga menggeleng-gelengkan kepala dengan heran, lalu dengan lembut, hanya cukup keras untuk Robert dengar, berkata, “Jones.”
“Bukan Mr. Jones,” Sahut Robert bercanda.
“Oh, tidak,” Kataku sambil terkekeh. “Hanya Jones.”
Saat aku mengulurkan tangan kepada Robert untuk bersalaman karena akan berpisah, ia berkata, “Aku tahu, ayah tidak memanggilnya Jones.”
“Benarkah?” kataku. “Bagaimana dia memanggilnya?”
“Yah, Ayah bertemu dengannya ketika dia datang bersama para pekerja migran—memetik gladiola—dan Ayah memanggilnyasebagaimana mereka memanggilnya saat itu, dan masih mereka lakukan hingga sekarang. Mereka memanggilnya Garcia.”

Jones sudah mengucapkan salam perpisahan kepada sebagian besar anak-anak itu, yang entah sudah kembali ke mobil mereka di lapangan parkir atau kembali bekerja. Tapi, saat beranjak menuju rindangnya teras clubhouse yang berada di atas danau, ia melihat tiga dari anak-anak muda itu belum pergi.
“Kau mau kemana Jones?” tanya Caroline, gadis jangkung di sebelahnya. “Kau mau Coke?” tanyanya. “Kalian?” tanyanya kepada yang lain, lalu tanpa menunggu jawaban berkata, “Empat Coke,” dan menuju clubhouse.
Caroline gadis berambut panjang berwarna merah. Ia lebih tinggi daripada Jones, secara umum cantik, seorang siswi senior SMA, dan salah satu anak yang paling populer di wilayah itu. Ayah Caroline seorang bankir hipotek, sementara ibunya aktif dalam masyarakat—keluarga itu seolah memiliki semuanya.
Saat berjalan menuju teras, Jones melihat sekilas ke arah Amelia, sahabat Caroline, yang berjalan di sebelahnya. Amelia , seorang mahasiswi tingkat dua yang pulang saat liburan musim semi, dua tahun lebih tua daripada Caroline. Amelia mengambil kuliah seni liberal dengan sejarah keluarga yang disebutnya “kelabu”. Di sebelah Amelia adalah Ritchie Weber, remaja tujuh belas tahun yang tampan.
Kelompok kecil itu menaiki teras dan berjalan ke belakang, menjauhi pintu masuk. Jones meletakkan badannya di salah satu kursi kursi goyang putih seperti yang dilakukan Amelia di sebelahnya. Tak lama kemudia Caroline datang, membagikan minuman ringan, lalu duduk di lantai teras yang terbuat dari kayu. Ritchie bertengger di atas jeruji, membelakangi danau.
“Kau ingin bicara apa, Jones?” tanya Ritchie. Kulit anak muda itu gelap berwarna moka, berkilat terkena pancaran matahari sore, dan wajahnya yang bersih serta giginya yang rapi membuatnya terlihat seperti aktor ataumodel. Luar biasa cerdas, Ritchie memfokuskan perhatiannya dalam bidang akademis, menjauhkan diri dari olahraga biasa (kecuali gof). Dengan IPK-nya yang tnggi, ia sudah memastikan diri mendapatkan beasiswa penuh di musim gugur.
“Aku?” Jones menjawab Ritchie, dengan nada polos palsu. “Aku tidak ingin bicara tentang apapun. Aku datang ke sini untuk tidur siang sebentar!”
“Ayolah!” goda Caroline, menimpuk laki-laki tua itu dengan sandal pink di kakinya. “Kau tahu kau ingin kami di sini. Kau menyangi kami. Jadi…., bicaralah, Jones!”
Laki-laki tua itu tertawa kecil dan menyesap minumannya. “Oke, ayo kita bicara. Tapi kalian yang mulai. Anak Muda,” Jones mengangkat cangkir styrofoam-nya kepada Ritchie, “kau dulu, bertanyalah.”
“Oke,” kata Ritchie bersemangat, “ini dia: bagaimana caramu menjaga pernikahan agar tidak berakhir dengan perceraian?”
Jones pura-pura terkejut. “Wow!” katanya. “Tidak ada yang mudah darimu! Bagaimana kalau, ‘ apa yang akan cubs lakukan tahun ini?’ atau ‘Kapan ikan trout akan mulai menggigit?’”
Ritchie hanya menunggu penuh harap.
“itu subyekmu?” tanya Jones pada akhirnya. “Kau yakin?”
“Yakin.” Sahut Ritchie.
Jones menghela napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. “Oke…, apakah kau sudah menikah?”
Kedua gadis itu terkikik.
“Jones!” kata Ritchie hampir berteriak. “Kau tahu aku belum menikah.”
“tapi dia punya pacar,” goda Caroline.
“Kalau kau belum menikah,” tanya Jones tanpa menyiratkan jebakan licik “Mengapa kau peduli dengan cara menjaga pernikahan agar tidak berakhir dengan perceraian?”
Ritchie mengangkat bahu. “Orangtuaku sepertinya adalah satu-satunya pasangan yang aku tahu tetap bertahan dengan pasangan pertama mereka…”
“Orangtuaku juga,” tukas Caroline.
“Oke,” Ritchie mengoreksi, “berarti orangtuaku dan orantuamu. Bagaimanapun, banyak sekali laki-laki dan perempuan yang menikah saat masih cukup muda… orang-orang yang kita kenal.” Ia memandang kedua temannya meminta persetujuan, dan mereka mengangguk. “Tapi kelihatannya beberapa tahun kemudian mereka semua bercerai,” lanjutnya. “Jadi, untuk mempersingkat cerita, alasanku menanyakan cara menjaga pernikahan agar tidak berakhir dengan perceraian adalah pasti ada sesuatu yang bisa kita pelajari saat berkencan! Maksudku, kuharap ada!”




to be continued

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar