Cari Blog Ini

Memuat...

Total Tayangan Laman

Rabu, 18 Januari 2012

Akibat berbuat maksiat

“seorang mu’min jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristigfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat “sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.” (H. R. Tirmidzi)
Akhi wa ukhti fillah.. perlu kita renungkan pendapat ibnul Qayyim Al-Jauziyah tentang bahaya berbuat maksiat.

1.       Maksiat menghalangi ilmu pengetahuan
Ilmu adalah cahaya Allah yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi’I yang luar biasa, beliau (Imam Malik) berkata, “Aku melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat.”


2.       Maksiat menghalangi rizki
Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rizki. Maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran. “Seorang hamba dicegah dari rizki akibat dosa yang diperbuatnya.” (H. R. Ahmad)
Ya akhi, kita harus meyakini bahwa takwa adalah penyebab dari datangnya rizki dan memudahkan mendapatkannya, sebagaimana hadits di atas. Dan tidaklah mudah mendapatkan rizki Allah kecuali kita tinggalkan kemaksiatan dan janganlah kita penuhi jiwa kita tumbuh dengan hal-hal maksiat.

3.       Maksiat menimbulkan jarak dengan Allah (kesunyian sehingga menimbulkan jarak dab jauhya dari Allah)
Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, “jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah (perbuatan dosa itu). Dalam hati kita, tidak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa di atas dosa.”

4.       Maksiat menjauhkan pelakunya dengan orang baik (kesunyian sehingga menimbulkan jarak dengan orang baik)
Maksiat menjauhkan pelakunya dari ornag lain, terutama dari golongan yang baik. Semakin berat tekanannya, maka semakin jauh pula jaraknya hingga berbagai manfaat dari orang yang baik terhalangi. Kesunyian dan kegersangan ini semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dengan keluarga, anak-anak dan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, “Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku.”

5.       Maksiat menyulitkan urusan
Jika ketakwaan dapat memudahkan urusan, maka pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi segala urusannya. Ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. Ibnu Abbas ra berkata, “Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rizki dan kebencian makhluk.”

6.       Maksiat melemahkan hati dan badan
Kekuatan seorang mu’min terpancar dari kekuatan hatinya. Jika hatinya kuat makakuatlah badannya. Tapi bagi pelaku maksiat, meskipun badannya kuat, sesungguhnya dia sangat lemah jika kekuatan itu sedang dia butuhkan, hingga kekuatan pada dirinya sering menipu dirinbya sendiri. Lihatlah bagaimana kekuatan fisik dan hati kaum muslamin yang atelah mengalahkan kekuatan fisik bangsa Persia dan Romawi.

7.       Maksiat menghalangi ketaatan
Orang yang melakukan dosa dan maksiat akan cenderung untuk memutuskan ketaatan. Seperti selayaknya orang yang satu kali makan tetapi mengalami sakit berkepanjangan dan menghalanginya dari memakan makanan lain yang lebih baik.

8.       Maksiat memperpendek umur dan menghapus keberkahan
Pada dasarnya, umur manusia dihitung dari masa hidupnya. Sementara itu, tak ada yang namanya hidup jika kehidupan itu dihabiskan dengan ketaatan, ibadah, cinta dan dzikir kepada Allah serta mementingkan keridhoan-Nya.

9.       Maksiat menumbuhkan maksiat lain
Seorang ulama salaf berkata, bahwa jika seorang hamba melakukan kebajikan, maka hal tersebut akan mendorong dia untuk melakukan kebajikan yang lainnya dan seterusnya. Dan jika seorang hamba melakukan keburuakan, maka dia pun akan cenderung untuk melakukan kerukan yang lain sehingga keburukan itu menjadi kebiasaan bagi si pelaku. 

10.   Maksiat mematikan bisikan hati nurani
Maksiat dapat melemahkan hati dari kebaikan dan sebaliknya akan menguatkan kehendak untuk berbuat maksiat yang lain. Maksiat pun dapat memutuskan keinginan untuk bertaubat. Inilah yang akan menjadi penyakit hati yang paling besar.

11.   Menghilangkan keburukan maksiat itu sendiri (tidak ada rasa malu untuk berbuat maksiat)
Jika orang sudah biasa berbuat maksiat, maka ia tak lagi memandang buruk perbuata itu. Sehingga maksiat itu menjadi adat kebiasaan. Ia pun tidak lagi mempunyai rasa malu melakukannya, bahkan memberitakannya kepada orang lain tentang perbuatan itu. Dosa yang dilakukannya dianggapnya rinagn dan kecil. Padahal dosa itu adalah besar di mata Allah SWT.

12.   Maksiat warisan umat yang pernah diazab
Misalnya, homoseksual adalah warisan umat Nabi Luth as, Perbuatan curang dengan mengurangi takaran adalah peninggalan kaum Nabi Syu’aib as, kesombongan di muka bumi dan menciptakan berbagai kerusakan adalaha milik Fir’aun dan kaumny7a, sedangkan takabur dan congkak merupakan warisan kaum Nabi Hud as. Denagn demikian bisa dikatakan, bahwa pelaku maksiat zaman sekarang adalah kaum yang memakai baju atau mencontoh umat terdahulu yang menjadi musuh Allah Swt. Dalam musnad Imam Ahmad dari Ibnu Umar disebutakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang , menyerupai satu kaum, maka dia termasuk golongannya.”

13.   Maksiat menimbulkan kehinaan dan mewariskan kehinadinaan
Kehinaan itu tidak lain adalah akibat perbuatan maksiatnya kepada Allah sehingga Allah pun menghinakannya, “…..Dan barang siapa yang dihinakan Allah, maka tidak seorang pun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allahberbuat apa yang Dia kehendaki.” (Q.S. Al-Hajj: 18). Sedangkan kemaksiatan itu akan melahirkan kehinadinaan, karena kemuliaan  itu akan muncul dari ketaatan kepada Allah Swt. “BArang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allahlah kemuliaan itu..” (Q.S. Al-Fathir:10). Seorang Salaf pernah berdo’a, “Ya Allah, annugerahilah aku kemuliaan melalui ketaatan kepada-Mu, dan janganlah Engkau hina-dinakan aku karena aku bermaksiat kepada-Mu.”

14.   Maksiat merusak akal
“Bagaimana mungkin akal yang sehatlebih mendahulukan hal-hal yang hina, padahal cahaya dan suara keimanan sudah pasti menolak kemaksiatan..”
Ulama Salaf berkata, bahwa seandainya seseorang itu masih berakal sehat, maka akal sehatnyaitulah yang akan mencegahnya dari kemaksiatan kepada Allah. Dia akan berada dalam genggaman Allah, sementara malaikat menyaksikan dan nasihat Al-Qur’an pun mencegahnya, begitu pula dengan nasihat keimanan. Tidaklah seseorang melakukan maksiat kecuali aklnya telah hilang.

15.   Maksiat menutup hati
Allah berfirman, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka.” (Al-Muthaffifin:14) Imam Hasan mengatakan hal itu sebagai dosa yang berlapis dosa. Ketika dosa dan maksiat telah menumpuk maka hatinya pun telah tertutup.

16.   Maksiat dilaknat Rasulullah
Rasulullah saw melaknat perbuatan maksiat seperti mengubah petunjuk jalan, padahal petunjuk jalan itu sangat penting (HR. Bukhori), melakukan perbuatan homoseksual  (HR. Muslim), menyerupai laki-laki bagi wanita dan menyerupai wanita bagi laki-laki, mengadakan praktek suap-menyuap (HR. Tirmidzi) dan sebagainya. 

17.   Maksiat menghalangi syafaat Rasul dan malaikat
Kecuali bagi mereka yang bertobatdan kembali ke jalan yang lurus, sebagaimana Allah SWT berfirman: “(malaikat-malaikat) yang memiklul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang yang bertobat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan api neraka yang menyala-nyala. Ya Tuhan kami, dan masukkanlah mereka ke dalam surga ‘adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang sholeh diantara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka, dan keturunan mereka semua. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha BIjaksana. Dan peliharalah mereka dari (balasan) kejahatan (Q.S. Al-Mukmin: 7-9)

18.   Maksiat melenyapkan malu
Malu adalah pangkal kebajikan, jika rasa malu telah hilang, hilanglah seluruh kebaikannya. Rasulullah bersabda: “malu itu merupakan kebaikan seluruhnya. Jika kamu tidak merasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhori).

19.   Maksiat meremehkan Allah
Jika seseorang berlaku maksiat, disadari atau tidak, rasa untuk mengagungkan Allah perlahan-lahan lenyap dari hati. Jika perasaan malu itub masih ada, tentulah ia akan mencegahnya dari berlaku maksiat.

20.   Maksiat memalingkan perhatian Allah
Allah akan membiarkan orang yang terus-menerus berbuat maksiat berteman dengan syaitan. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu seperti orang –orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Al-Hasyr: 19)

21.   Maksiat melenyapkan nikmat dan mendatangkan azab
Allah berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangnmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Q.S. Asy-Syuro:30)
‘Ali ra berkata: “Tidaklah turun bencana melainkan karena dosa. Dan tidaklah bencana lenyap melainkan karena tobat.”

22.   Maksiat memalingkan istiqomah
Orang yang hidup di dunia ini bagaikan seorang pedagang. Pedagang yang cerdik tentu saja akan menjual barangnya kepada pembeli yang sanggup membayar dengan harga yang tinggi. Ialah Allah yang akan membeli barang itu dan dibayarnya dengan kehidupan surga yang abadi. Jika seseorang menjualnya dengan imbalan kehidupan dunia yang fana, ketika itulah ia tertipu.

Ya akhi fillah,, mari kita renungkan bersama..
Semoga Allah menjaga da’wah dan orang-orang yang memperjuangkannya..
Amiin

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar